Skip to main content

Sejauh hidung mencium, kalian pastinya sering menemukan job title UI/UX Designer dibeberapa job vacancy yang ada di Indonesia. Karena seringnya UI dan UX dipasangkan dalam satu role job, maka beberapa orang mengira UI dan UX adalah istilah yang sama, bedanya UI singkatan dari User Interface dan UX singkatan dari User Experience. Ga salah kok, memang dari singkatan mereka berbeda, tapi sebenarnya dari asalnya pun mereka adalah dua role yang jauh berbeda jauh.

Untuk mempermudah kita mengerti apa bedanya kedua hal diatas, mari kita dalami satu-satu.

The History

Disclaimer: Maaf sebelumnya kalau ada history yang salah di artikel ini ┑( ̄▽ ̄)┍

Sebelum kita mulai memahami tentang UI designer, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu User Interface. Kalau menurut Google User Interface adalah interaksi antara komputer dan si pengguna.

Sekitar tahun 1970-an, komputer di dunia belum memiliki tampilan yang dapat digunakan oleh orang awam. Semua komputer mengharuskan penggunanya untuk menjalankan apapun dengan coding. Hal ini mengakibatkan komputer hanya digunakan di perusahaan besar, dimana user interface yang dilakukan sulit karena apapun yang kita lakukan harus dalam bentuk coding supaya komputer tersebut dapat mengerti apa yang kita inginkan.

Lalu pada tahun 1984, munculah komputer pertama Apple, Macintosh 128K. Komputer ini adalah komputer pertama yang dilengkapi GUI (Graphical User Interface). Sesuai dengan rencana Apple yang ingin membawa komputer ke rumah-rumah (tidak hanya untuk perusahaan saja) mereka membuat komputer mereka untuk dapat digunakan oleh siapa saja, tidak perlu menggunakan coding.

Dengan berkembangnya tren komputer dapat digunakan oleh siapa pun, meningkat juga perlombaan dari berbagai perusahaan komputer untuk membuat komputernya semudah mungkin digunakan oleh orang banyak. Disinilah UI dan UX mulai diperhatikan sebagai salah satu element penting dalam pembuatan komputer dan software pendukungnya.

Lalu pada tahun 1995 hingga 2001 terjadi yang disebut dengan The dot-com bubble di US, dimana terjadi peningkatan yang sangat padat didunia internet. Dimana semua orang berlomba-lomba membuat website untuk komunikasi, hiburan, jualan, dan lain-lain. Semakin banyaknya website yang memiliki tujuan yang sama membuat perlombaan semakin pesat dan akhirnya orang-orang mulai mencari cara lain untuk membuat diri mereka lebih menarik dibanding pesaingnya. Disini mulailah ada istilah pekerjaan UI/UX Designer. Dimana mereka memiliki tanggung jawab untuk membuat website yang menarik, berbeda dengan kompetitor mereka dan juga mudah digunakan oleh pengguna awam sekalipun.

UX Designer

Selanjutnya kita akan bahas lebih lanjut tentang apa itu UX Designer. Sebagai seorang UX Designer, hal paling penting yang harus dipikirkan adalah bagaimana pengguna kalian berinteraksi dengan produk kalian. Bagaimana mereka menemukan produk kalian, mengunakannya dan cara produk kalian menyelesaikan masalah mereka.

Secara singkat UX Designer dapat disebut sebagai The Journey. Kalian harus memikirkan pengalaman pengguna selama menggunakan produk kalian. Mulai dari mereka masuk pertama kali, apa yang bisa mereka lakukan selanjutnya, apa saja yang bisa membantu mereka dan tentunya kalian harus memastikan bahwa produk kalian berguna untuk mereka.

The Staircase of User Experience

Sesuai dengan gambar, 6 hal diatas adalah point terpenting dan merupakan tanggung jawab utama seorang UX Designer.

Findable, produk kalian harus mudah ditemukan. Andai kata kalian membuat sebuah website untuk menjelaskan sebuah jasa yang kalian tawarkan, tentunya user harus bisa menemukan dimana mereka ingin tahu lebih lanjut tentang jasa kalian, siap saja yang akan mengerjakan jasa tersebut dan dimana mereka bisa menghubungi kalian saat mereka tertarik untuk menggunakan jasa kalian. Navigasi menu yang mudah, flow yang tidak berbelit-belit dan tidak berakhir dengan jalan buntu (misal didalam aplikasi iOS tidak ada tombol back) dan penempatan tombol CTA (Click to Action) yang strategis dan menarik perhatian.

Accessible – Dapat diakses disini meliputi apakah produk kalian membutuhkan koneksi internet dan apakah itu relevan dengan tujuan pengguna kalian (jangan membuat produk yang menggunakan konsumsi internet tinggi ketika pengguna utama kalian sulit mendapatkan akses internet) Selain itu accessible juga memperhatikan jika produk utama kalian adalah aplikasi atau mobile site, apakah tulisannya dapat terlihat (apalagi jika target utama kalian adalah orang yang lebih tua dan memiliki penglihatan yang lebih sensitif), tombol kalian dapat ditekan oleh orang-orang dengan jari jempol semua? Atau jika kalian membuat aplikasi  penguna kalian sedang menggunakan tangan mereka sambil memasak, atau sambil mengendarai kendaraan.

Usable – Tentunya semua produk yang kalian buat harus bisa digunakan oleh semua pengguna kalian. Jangan membuat sebuah produk yang hanya indah dilihat tapi akhirnya tidak dapat digunakan karena membingungkan pengguna. Ingat selalu berikan keleluasaan untuk pengguna meng-explore produk kalian. Berikan feedback yang jelas dan jangan membuat pengguna kalian berpikir atau mengingat terlalu banyak.

Desirable – Selain menarik produk kalian harus memiliki hal-hal yang dapat membuat pengguna kalian ingin menggunakan kalian, tidak hanya lihat-lihat doang. Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan beberapa gambar di tempat yang strategis, kata-kata marketing yang padat, singkat dan menarik. Trik A-B testing banyak dilakukan untuk dapat meningkatkan hal ini. Dengan mencoba mencari gambar banner yang lebih menarik atau kata-kata yang meningkatkan conversion.

Credible – Setelah pengguna kalian menemukan produk kalian dan tertarik, hal berikutnya yang butuh dipikirkan adalah bagaimana mereka bisa percaya dengan produk kalian dan mau membeli atau nenggunakan produk kalian? Disinilah crefible sangat dibutuhkan. Kalian bisa meningkatkan kepercayaan pengguna kalian dengan membuat halaman atau bagian about us yang jelas, testimonial dan review, beberapa logo penting menghiasi produk kalian (semisal logo OJK di produk fintech)

Useful – Paling terakhir dan mungkin yang paling penting. Setelah semua hal diatas dilakukan dan berhasil, pertanyaan selanjutnya adalah apakah produk kalian berguna untuk pengguna kalian? Apakah masalah mereka teratasi dengan produk kalian? Jangan pernah membuat sebuah produk yang tidak menyelesaikan sebuah masalah. Dengarkan feedback dari pengguna kalian dan kembangkan terus produk kalian supaya semakin baik kedepannya.

Singkat cerita, seorang UX Designer harus dapat menuntun pengguna mereka dalam menggunakan produk kalian. Kalian yang akan merencanakan step by step alur pengguna kalian selama didalam produk kalian.

Secara singkat pekerjaan UX Designer meliputi membuat story perjalanan pengguna selama di produk mereka (bagaimana produk kalian berkomunikasi dengan pengguna) lalu membuat wireframe sederhana untuk menentukan peletakan dan flow keseluruhan.

UI Designer

Sebagai seorang UI Designer tanggung jawab utama kalian ada pada tampilan. UI Designer atau bisa disebut sebagai The Visual, harus berfokus ke bagaimana produk kalian ingin dilihat oleh pengguna. Gunakan design yang ceria untuk pengguna yang lebih muda, atau design yang lebih kaku untuk produk yang lebih serius atau memiliki target untuk digunakan oleh perusahaan.

Jadi sebagai UI Designer kalian harus memikirkan masalah warna apa yang akan digunakan, font type apa saja yang akan muncul dan gambar apa saja yang akan digunakan. Intinya semua hal yang berhubungan dengan tampilan atau biasa yang akan dibuat menjadi UI KIT adalah tanggung jawab dari seorang UI Designer.

Tools utama yang digunakan oleh seorang UI Designer adalah tools mockup seperti Sketch, UX, Photoshop atau Figma.

Kesimpulan

Ok saatnya untuk kesimpulan. UI dan UX Designer memiliki tujuan yang sama pada akhirnya, yaitu supaya pengguna mereka mau membeli atau menggunakan produk mereka. Bedanya UI lebih fokus ke tampilan, sedangkan UX lebih fokus ke pengalaman pengguna.

Lalu dari mana munculnya role UI/UX Designer? Mudahnya karena banyak orang yang berpikiran kalau 2 hal itu adalah hal yang sama, dimana mereka men-design dan membuat sebuah produk supaya mudah digunakan oleh pengguna mereka. Tidak salah, dan biasanya startup atau perusahaan yang baru saja memulai usaha mereka, pastinya ingin punya 1 orang yang bisa melakukan 2 hal itu. Cuma seberjalannya usaha mereka, ada baiknya jika 2 hal itu dilakukan oleh 2 orang yang berbeda sehingga mereka bisa lebih fokus ke perkerjaan mereka.

By the way, di zaman sekarang role untuk UI/UX sudah semakin banyak jenisnya, ada UX copywriter, UX engineer, UI engineer, UX Research, etc… etc…

See you until next time ( ̄▽ ̄)ノ

Leave a Reply